Senin, 22 Maret 2010

Kabupaten Ketapang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Ketapang
Lambang Kabupaten Ketapang.jpeg
Lambang Kabupaten Ketapang
Ketapang.svg
Peta lokasi Kabupaten Ketapang
Koordinat : 0º19'-3º05' LS dan 108º42'-111º16' BT
Motto '
Semboyan '
Slogan pariwisata '
Julukan
Demonim '
Provinsi Kalimantan Barat
Ibu kota Ketapang
Luas 35.809 km²
Penduduk
· Jumlah 473.880 (2004)
· Kepadatan 13 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 20
· Desa/kelurahan -
Dasar hukum -
Tanggal -
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati H. Morkes Effendi
Kode area telepon 0534
APBD {{{apbd}}}
DAU -
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: http://www.ketapangkab.go.id/

Kabupaten Ketapang adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Barat. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Ketapang. Memiliki luas wilayah 35.809 km², memiliki penduduk sebesar 473.880 jiwa (2004).

Ibukota Kabupaten Ketapang terletak di Ketapang, sebuah kota kecil yang terletak di tepi Sungai Pawan.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Sejarah

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, sejak tahun 1936 Kabupaten Ketapang adalah salah satu daerah Afdeling yang merupakan bagian dari Keresidenan Kalimantan Barat (Residentis Western Afdeling van Borneo) dengan pusat pemerintahannya di Pontianak. Kabupaten Ketapang ketika itu dibagi menjadi tiga Onder Afdeling, yaitu:

  • Onder Afdeling Sukadana, berkedudukan di Sukadana
  • Onder Afdeling Matan Hilir, berkedudukan di Ketapang
  • Onder Afdeling Matan Hulu, berkedudukan di Nanga Tayap

Masing-masing Onder Afdeling dipimpin oleh seorang Wedana. Tiap-tiap Onderafdeling dibagi lagi menjadi Onder Distrik, yaitu:

  • Onder Afdeling Sukadana terdiri dari Onder Distrik Sukadana, Simpang Hilir dan Simpang Hulu
  • Onder Afdeling Matan Hilir terdiri dari Onder Distrik Matan Hilir dan Kendawangan
  • Onder Afdeling Matan Hulu terdiri dari Onder Distrik Sandai, Nanga Tayap, Tumbang Titi dan Marau

Masing-masing Onder Distrik dipimpin oleh seorang Asisten Wedana. Afdeling Ketapang terdiri atas tiga kerajaan, yaitu:

  • Kerajaan Matan, yang membawahi Onder Afdeling Matan Hilir dan Matan Hulu
  • Kerajaan Sukadana, yang membawahi Onder Distrik Sukadana
  • Kerajaan Simpang, yang membawahi Onder Distrik Simpang Hilir dan Simpang Hulu

Masing-masing kerajaan dipimpin oleh seorang Panembahan. Sampai tahun 1942, kerajaan Matan dipimpin oleh Gusti Muhammad Saunan, kerajaan Sukadana dipimpin oleh Tengku Betung dan kerajaan Simpang dipimpin oleh Gusti Mesir.

Keraton Saunan

Masa Pendudukan Jepang. Masa pemerintahan Hindia Belanda berakhir dengan datangnya bala tentara Jepang pada tahun 1942. Dalam masa pendudukan tentara Jepang, Kabupaten Ketapang masih tetap dalam status Afdeling, hanya saja pimpinan langsung diambil alih oleh Jepang.

Masa Pendudukan NICA. Pemerintahan pendudukan Jepang yang berakhir kekuasaannya pada tahun 1945 diganti oleh Pemerintahan Tentara Belanda (NICA). Pada masa ini bentuk pemerintahan yang ada sebelumnya masih diteruskan. Kabupaten Ketapang berstatus Afdeling yang disempurnakan dengan Stard Blood 1948 no. 58 dengan pengakuan adanya Pemerintahan Swapraja. Pada waktu itu Kabupaten Ketapng terbagi menjadi tiga pemerintahan swapraja, yaitu Sukadana, Simpang dan Matan. Kemudian semua daerah swapraja yang ada digabungkan menjadi sebuah Federasi.

Pembentukan Kabupaten Sintang. Undang-undang nomor 25 tahun 1956 menetapkan status Kabupaten Ketapang sebagian bagian Daerah Otonom Propinsi Kalimantan Barat yang dipimpin oleh seorang Bupati.

[sunting] Geografi

Kabupaten Ketapang merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Propinsi Kalimantan Barat, terletak di antara garis 0º 19’00” - 3º 05’ 00” Lintang Selatan dan 108º 42’ 00” - 111º 16’ 00” Bujur Timur.

Dibandingkan Kabupaten lain di Kalimantan Barat, Kabupaten Ketapang merupakan kabupaten terluas, memiliki pantai yang memanjang dari selatan ke utara dan sebagian pantai, yang merupakan muara sungai, berupa rawa - rawa terbentang mulai dari Kecamatan Teluk Batang, Simpang Hilir, Sukadana, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan dan Pulau Maya Karimata, Sedangkan daerah hulu umumnya berupa daratan yang berbukit - bukit dan diantaranya masih merupakan hutan.

Sungai terpanjang di Kabupaten Ketapang adalah Sungai Pawan yang menghubungkan Kota Ketapang dengan Kecamatan Sandai, Nanga Tayap dan Sungai Laur serta merupakan urat nadi penghubung kegiatan ekonomi masyarakat dari desa dengan kecamatan dan kabupaten. Adapun batas-batas wilayah administrasi Kabupaten Ketapang adalah sebagai berikut:

  • Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Sanggau.
  • Sebelah Barat : Berbatasan dengan Selat Karimata.
  • Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Laut Jawa.
  • Sebelah Timur : Berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Sintang.

Daerah Kabupaten ketapang mempunyai luas wilayah 35.809 Km² (± 3.580.900 Ha) yang terdirid ari 33.209 Km² wilayah daratan dan 2.600 Km² wilayah perairan serta memiliki 15 Kecamatan yaitu Kecamatan Matan Hilir Utara, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kecamatan Kendawangan, Kecamatan Sukadana, Kecamatan Teluk Batang, Kecamatan Simpang Hilir, Kecamatan Pulau Maya Karimata, Kecamatan Tumbang Titi, Kecamatan Marau, Kecamatan Manis Mata, Kecamatan Jelai Hulu, Kecamatan Sandai, Kecamatan Nanga Tayap, Kecamatan Sei Laur dan Kecamatan Simpang Hulu.

Kota Ketapang dan Tugu Tolak Bala

Topografi

Daerah pantai memanjang dari utara ke selatan dan daerah aliran sungai merupakan dataran berawa-rawa, yakni mulai dari kecamatan Telok Batang, Simpang Hilir, Sukadana, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan dan Pulau Maya Karimata. Sedangkan wilayah perhuluan umumnya berupa daerah berbukit-bukit. Sungai terpanjang di Kabupaten Ketapang adalah sungai Pawan. Juga terdapat sungai-sungai besar lainnya, yakni sungai Merawan/Matan, Kualan, Pesaguan, Kendawangan dan Jelai.

Geologi

Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Ketapang berupa tanah podsolik merah kuning, litosol/regosol, latosol, andosol dan organosal. Tanah podsolik merah kuning terdapat di daerah hulu bagian tengah, memanjang dari utara ke selatan, meliputi kecamatan Tumbang Titi, Jelai Hulu, Marau, Simpang Hulu, sandau, Nanga Tayap, Sungai Laur dan sebagian kecamatan Manis Mata. Tanah litosol/rigosol terdapat di daerah hulu agak ke timur, sebagian besar terdapat di kecamatan Sungai Laur, Simpang Hulu, Sandai dan Nanga Tayap. Tanah latosol terdapat di kecamatan Sandai dan Sungai Laur. Jenis tanah andosol hanya terdapat di kecamatan Sandai bagian timur. Tanah organosal sebagian besar terdapat di daerah pantai, memanjang dari utara ke selatan, yaitu di kecamatan Simpang Hilir, Pulau Maya Karimata, Sukadana, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan dan Manis Mata.

I k l i m

Kabupaten Ketapang ber iklim tropis dengan suhu rata - rata 23,70° C - 26,70° C dan suhu pada siang hari mencapai 30,80° C serta memiliki curah hujan rata - rata 3696,1 mm / th dengan curah hujan rata - rata per tahun sebanyak 214 kali, sedangkan kecepatan angin adalah 3,1 knot dan merupakan yang tertinggi di Kalimantan Barat.

[sunting] Ekonomi

Pendapatan utama Kabupaten Ketapang berasal dari bisnis kayu, kelapa sawit, sarang burung walet, dan jasa perdagangan. Pertokoan di Ketapang sebagian besar dimiliki oleh etnis Tionghua.

[sunting] Pendidikan

Terdapat beberapa SMA dan SMK di kota ini. Juga terdapat beberapa perguruan tinggi, antara lain STAI Al Haudl, Politeknik KEtapang, AMKI, AKPER dan UT.

[sunting] Kesehatan

Terdapat dua rumah sakit di kota ini yakni RSUD Agoesdjam dan RS Fatima (swasta).

[sunting] Demografis

Jumlah penduduk Kabupaten Ketapang yang meliputi 24 Kecamatan adalah 473.880 jiwa (tahun 2004) yang terdiri dari laki-laki 217.885 jiwa dan perempuan 205.931 jiwa.

Kota Ketapang adalah kota yang multi suku dan etnis. Suku Dayak dan Melayu serta Tionghua yang merupakan tiga suku terbesar di kota ini. Selain itu juga ada suku Jawa dan Madura. Orang Tionghua di kota ini menggunakan dialek Tiochiu (dalam ejaan Mandarin: Chaozhou) sebagai bahasa pengantar sesama Tionghua. Juga terdapat sebagian kecil orang Tionghua yang menggunakan bahasa Khek (Hakka).

Kelenteng Tua Pek Kong

[sunting] Transportasi

Kota Ketapang dapat dijangkau dari kota lain melalui Bandara Rahadi Osman dan Pelabuhan Ketapang. Terdapat penerbangan dan ke Pontianak dan Semarang via Pangkalan Bun. Transportasi antar desa di Ketapang menggunakan bus, kapal cepat (speedboat). Trnasportasi di tengah kota dapat menggunakan angkot, yang dalam bahasa setempat disebutoplet (mobil jenis minibus atau van); juga terdapat ojek.

[sunting] Tempat

Tugu Ale-ale

Tugu Ale-ale, terletak di perempatan Jl.R.Supratman dan jalan menuju jembatan Pawan 1, yang melintasi Sungai Pawan. Ale-ale adalah sejenis kerang berkulit halus yang menjadi makanan khas Ketapang. Tugu Tolak Bala, terletak di tengah Kota Ketapang, yakni di pertigaan Jl.Merdeka dan Jl.A.Yani. Museum Keraton Gusti Muhammad Saunan, dahulu merupakan kerajaan Melayu, terdapat di Ketapang, dan menghadap ke Sungai Pawan. Kelenteng Tua Pek Kong, tempat ibadah umat Tridharma yang terletak di Jl.Merdeka, Ketapang.

[sunting] Hotel

Di Kota Ketapang terdapat Hotel kelas Melati 3 yakni Hotel Perdana, Hotel Murni dan Hotel Putra Tanjung.Hotel Kelas Melati 1 yakni Hotel Aorta. Hotel Bintang 1 yakni Aston City Hotel Ketapang

[sunting] Bahasa Dayak

Peneliti Institut Dayakologi, Sujarni Aloy dan kawan-kawannya (Sujarni Aloi, dkk 1997), meneliti ada 50 bahasa Dayak di Ketapang, yaitu :

  1. bahasa Dayak Kualatn
  2. Bahasa Mali
  3. Bahasa Kancikng
  4. Bahasa Cempede’
  5. Bahasa Semandakng
  6. Bahasa Sajan
  7. Bahasa Banjur
  8. Bahasa Gerai
  9. Bahasa Baya
  10. Bahasa Laur
  11. Bahasa Joka’
  12. Bahasa Domit
  13. Bahasa Pawatn
  14. Bahasa Krio
  15. Bahasa Konyeh
  16. Bahasa Biak
  17. Bahasa Beginci
  18. Bahasa Tumbang Pauh
  19. Bahasa Gerunggang
  20. Bahasa Kayong
  21. Bahasa Majau
  22. Bahasa Pangkalan Suka
  23. Bahasa Kebuai
  24. Bahasa Tola’
  25. Bahasa Marau
  26. Bahasa Batu Tajam
  27. Bahasa Kengkubang
  28. Bahasa Pesaguan Hulu
  29. Bahasa Kendawangan
  30. Bahasa Pesaguan Kanan
  31. Bahasa Kekura’
  32. Bahasa Lemandau
  33. Bahasa Tanjung
  34. Bahasa Benatuq
  35. Bahasa Sumanjawat
  36. Bahasa Tembiruhan
  37. Bahasa Penyarangan
  38. Bahasa Parangkunyit
  39. Bahasa Perigiq
  40. Bahasa Riam
  41. Bahasa Belaban
  42. Bahasa Batu Payung
  43. Bahasa Pelanjau
  44. Bahasa Membuluq
  45. Bahasa Dayak Menggaling
  46. Bahasa Air Upas
  47. Bahasa Sekakai
  48. Bahasa Air Durian
  49. Bahasa Sempadian.

[sunting] Lihat pula

Kisah Tiga Srikandi di Belantara Borneo

Beginilah pemandangan di halaman depan kediaman Ir Agustina Listiawati, MP, di salah satu sudut kota Pontianak, Kalimantan Barat. Pot-pot berwarna jingga, hijau, dan hitam, berderet rapi di atas rak-rak kayu dan besi. Shading net hitam membentang sepanjang atap greenhouse sederhana seluas 120 m2 dan 200 m2. Puluhan tempurung kelapa menempel di beberapa dinding greenhouse yang terbuat dari kawat. Potongan-potongan pakis menggantung rapi di sana-sini, berselingan dengan pot-pot plastik.

Di sanalah, Lies -sapaan akrab Agustina Listiawati -merawat ratusan 300 anggrek spesies asli Kalimantan Barat yang terkenal eksotis. Sebut saja misalnya Phalaenopsis bellina berdaun lebar dengan bunga mungil berwarna putih kehijauan bersaput merah keunguan. Atau Arachis breviscava yang berbunga kuning dengan totol-totol cokelat tua. Ada juga Paraphalaenopsis serpentilingua berbunga putih berlidah kuning yang tumbuh bergerombol. Saat anggrek-anggrek spesies itu berkembang, berbunga-bunga pulalah hati Lies.



Anggrek borneo
Pemandangan hampir serupa terlihat di kediaman Ir Chairani Siregar, MSc dan Ir Purwanti, MSi -juga di Pontianak. Di nurseri A &Z Orchids milik Chairani, terlihat Dyakia hendersoniana . Anggrek berbunga mungil berwarna merah cerah itu endemik Kalimantan. Di alam bebas, tanaman epifi t itu kini sangat jarang dijumpai. Koleksi lain, Macodes petola. Anggota famili Orchidaceae itu salah satu koleksi istimewa perempuan kelahiran Tapanuli, 8 Februari 1949 itu. Maklum jewel orchids -begitu sebutannya -salah satu anggrek yang berdaun paling indah.

Lain lagi koleksi Purwaningsih. Master dari Institut Pertanian Bogor itu, mengoleksi Tainia pausipolia -anggrek tanah berbunga merah tua seperti manggis yang tahan lama. Di habitatnya di tepian sungai di hutan-hutan dataran tinggi Sanggau, Sintang, dan Landak keindahannya bisa dinikmati sepanjang tahun. Jenis lain, Phalaenopsis cornucervi . Kerabat vanili asal Sambas, Singkawang, Bengkayang, Sanggau, dan Sekadau itu sering disebut anggrek ekor buaya atau anggrek bulan loreng karena motif bunga yang loreng-loreng.

Bukan hal aneh bila halaman rumah Lies, Chairani, dan Purwaningsih melulu berisi anggrek-anggrek spesies asal Kalimantan. Ketiga perempuan yang sama-sama berprofesi sebagai pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura itu dikenal sebagai 3 serangkai pencinta anggrek borneo. Boleh dibilang merekalah kolektor anggrek spesies borneo -terutama dari Kalimantan Barat -terlengkap.

Keluar-masuk hutan untuk mendapatkan koleksi baru sudah jadi santapan rutin. Mulai dari hutan-hutan di Sambas, Singkawang, Landak, Sanggau -semua di Kalimantan Barat -sampai Serikin dan Biawak -wilayah Malaysia Timur yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bengkayang Sambas, serta Kuching, ibukota Serawak. Maklum sekitar 80%anggrek koleksi mereka memang hasil berburu langsung ke hutan-hutan. ?Hampir semua hutan di seluruh Kalimantan Barat sudah kami jelajahi, kecuali yang berada di Kabupaen Ketapang dan Kapuashulu,? kenang Lies.

Terendam air
Kegiatan memburu anggrek di perbatasan Sambas dan Serawak menjadi pengalaman paling berkesan. Perjalanan itu dimulai dari Pontianak menuju Sambas - ibukota Kabupaten Sambas yang ditempuh dengan waktu 5 jam berkendaraan roda empat. Dari Sambas, rombongan bergerak ke arah Kecamatan Galing selama 3 jam bermobil. Sampai di sana, mereka mesti berganti kendaraan dengan ojek karena jalan yang ditempuh hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Selama 2 jam, perempuan-perempuan tangguh itu dibuat pontang-panting di jalan berbukit-bukit yang berpasir dan berdebu.

Namun, mereka pantang menyerah demi mendapatkan Paphiopedilum sandrianum -anggrek yang konon hanya ada di Sajingabesar di Gunung Kaliau. Sayang, begitu tiba di lokasi, sang buruan tak kunjung ditemukan. ?Kami malah menemukan Arachis breviscava yang sedang berbunga. Itu pun cuma ada 2 tanaman setinggi 3 m, ? kata Lies.

Pengalaman tak kalah mendebarkan waktu memburu Paraphalaenopsis serpentilingua di Kabupaten Sekadau. Perjalanan mencari anggrek berjuluk lau tikus (ekor tikus, red) itu tak semudah yang dibayangkan. Dipandu warga setempat, mereka bermotor air menempuh perjalanan selama 2 jam menyusuri sungai. Itu dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 2 jam di tanah banjir setinggi pinggang. Apadaya, setelah berjuang selama 4 jam, yang didapat hanya 2 tanaman setinggi 30 cm. Toh, medan berat selama perburuan tak menyurutkan langkah para srikandi itu mencari anggrek-anggrek spesies baru. ?Habis jalan ke hutan menyenangkan. Semua beban pikiran sepertinya lepas, ? kata Lies. Pantas tiga serangkai itu tidak pernah kapok keluar-masuk hutan.

Dari pameran
Kebersamaan mereka sebetulnya tanpa sengaja. Mula-mula Lies, Chairani, dan Purwaningsih berjalan sendiri-sendiri mengoleksi tanaman epifi t itu. Sejak semasa kuliah Lies sudah gemar mengoleksi anggrek. Namun, waktu itu jenis-jenis hibrida yang banyak dimiliki. Chairani yang mengambil master di University of Kentucky, Lexington, Amerika Serikat, suka anggrek gara-gara terpikat pesona anggrek merpati Dendrobium crumenatum yang harum.

Belakangan setelah sama-sama aktif di PAI, mereka melirik anggrek spesies. ?Keragamannya luar biasa. Mulai dari yang berukuran bunga kecil sampai besar. Bunganya ada yang tahan setengah hari sampai yang berbulan-bulan. Ada yang beraroma harum seperti Coelogyne asperata dan Phalaenopsis belina sampai yang berbau busuk seperti Bulbophyllum beccari, ? kata Lies, Chairani, dan Purwaningsih sepakat. Anggrek spesies yang pertama dimiliki Lies ialah anggrek tebu Grammatophyllum speciosum , anggrek pandan Cymbidium finlaysonianum , dan Dorrotis pulcherrima . Chairani punya Plocoglotis lowii . Sementara koleksi pertama Purwaningsih adalah Phalaenopsis bellina dan Tainia pauspolia.

Sebuah pameran di Museum Negeri Kalimantan Barat pada 2002 akhirnya mempertemukan mereka. Waktu itu, masing-masing diminta mengisi stan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura yang masih kosong. Kebetulan Lies, Chairani, dan Purwaningsih dikenal oleh teman-teman sebagai pencinta tanaman. Jadilah mereka bertiga mengisi stan itu.

?Dari situ kami jadi sering ngobrol-ngobrol , ? kata Lies yang kini memiliki Khuby Orchids. Usut punya usut, ternyata ketiga aktivis organisasi Perhimpunan Anggrek Indonesia Provinsi Kalimantan Barat dan Kota Pontianak itu sama-sama gemar berburu anggrek spesies ke hutan. Daripada berburu sendiri-sendiri, akhirnya mereka pun sepakat bergabung. Eksplorasi bersama pertama ialah ke hutan-hutan di Kabupaten Sambas sepanjang 2003 -2004 yang dibiayai oleh pemda setempat. Dari perburuan perdana itu, lalu penjelajahan berlanjut ke hutan-hutan di 7 kabupaten lain.

Anggrek borneo lestari
Kini, kerja keras 3 srikandi itu terpampang jelas di nurseri masing-masing. Chairani mengoleksi sekitar 300 spesies. Macodes petola dan Arachis breviscava yang langka jadi koleksi kebanggaan. Sejumlah sama juga dikoleksi Lies. Ketua Litbang dan Konservasi PAI Kota Pontianak itu paling suka dengan Nevervilia discolor. Sementara dari 100 koleksi Purwaningsih, Tainia pausipolia dan Porpiroglottis maxwelie jadi kesayangan. T. pausipolia milik perempuan kelahiran Pontianak, 16 September 1958 itu menjadi juara umum dalam Borneo Orchids Show pada 2003.

Dari belantara borneo, anggrek-anggrek itu ditangkarkan. Hasil keluar-masuk hutan mereka dokumentasikan dalam sebuah terbitan tentang anggrek spesies Kalimantan Barat. Kepedulian untuk melestarikan anggrek-anggrek spesies borneo agar tak punah jadi perekat erat hubungan mereka

sepenggal kisah dari kalimantan barat

Pada tanggal 16-20 Juli lalu Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Geografi Sejarah menyelenggarakan kegiatan Bertajuk “Arung Sejarah Bahari”. Kegiatan ini diikuti kurang lebih 100 mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Arung Sejarah Bahari memiliki pengertian Arung berarti mengarungi atau menjelajahi sedangkan sejarah ialah melihat ke masa lalu. Kegiatan ini berupa menjelajahi jejak-jejak sejarah kebaharian yang pernah ada di Kalimantan Barat. Kegiatan arung sejarah bahari bertujuan untuk mengenalkan sejarah kebaharian kepada generasi muda dan diharapkan dapat mencintai dunia kebaharian.. Pada kegiatan ini para peserta mengunjungi objek-objek yang memiliki nilai sejarah dan berkaitan dengan peradaban masa lalu yang pernah ada di Kalimantan Barat. Kota-kota di Kalimantan Barat yang memiliki peninggalan sejarah maritim diantaranya ialah Pontianak, Ketapang dan Sukadana. Perjalanan menjelajahi kota-kota tersebut ditempuh dalam waktu 4 hari.
Pontianak merupakan ibukota propinsi Kalimantan Barat. Kota ini dibelah oleh Sungai Kapuas yang panjangnya mencapai 700 meter dan merupakan salah satu sungai terlebar di Indonesia. Di kota ini terdapat berbagai macam objek peninggalan sejarah kerajaan maritim, diantara objek-objek tersebut adalah Kerraton Kadariyah, Masjid Jami Sultan Abdurahman, makam raja-raja Kerajaan Pontianak. Selain itu, ada juga peninggalan sejarah yang memiliki kaitan erat dengan kedatangan bangsa china di Pontianak yaitu Klenteng tua Budhisatva Karaniya Metta dan Pelabuhan Sheng hie.
Keraton Kadariyah merupakan peninggalan kesultanan Pontianak, yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada tanggal 1771 (14 Rajab 1185 H). Keraton ini terletak 4 km dari pusat kota, tepatnya dari Kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Sampai sekarang Keraton Kadariyah masih menyimpan peninggalan kesultanan seperti, singgasana, Kaca Pecah Seribu, Al-qur’an tulis tangan oleh Sultan dan lain sebagainya. Keraton Kadariyah hingga kini masih ditempati oleh keturunan dari Sultan Syarif Abdurrahman.
Masjid Jami Sultan Abdurrahman merupakan bagian dari Keraton Kadariyah yang berjarak 300 meter dari Keraton Kadariyah. Mesjid ini terletak di tepi sungai Kapuas, dimana pada masa itu Sungai Kapuas merupakan prasarana transportasi utama yang digunakan masyarakat sekitar. Masjid yang didirikan pada masa Sultan Syarif Oesman yang memerintah pada tahun 1819-1855 sampai saat ini masih dipergunakan oleh masyarakat untuk beribadah dan melakukan kegiatan keagamaan.
Makam Raja-Raja Kerajaan Pontianak bernama Kompleks Makam Batulayang karena terletak di Kelurahan Batulayang, Kecamatan Pontianak Utara dengan jarak 7 km dari pusat kota. Kompleks makam ini terletak persis disebelah utara Sungai Kapuas. Ditempat ini dimakamkan 7 orang Sultan yang pernah memerintah di Kesultanan Pontianak yaitu Sultan Syarif Abdurrahman, Sultan Sayid Kasim Al Kadri, Sultan Syarif Oesman Al Kadri, Sultan Syarif Hamid I, Sultan Syarif Yusuf Al Kadri, Sultan Syarif Muhammad Al Kadri dan Sultan Syarif Hamid II.
Sejarah Pontianak tidak terlepas dari peran Bangsa China yang menguasai perdagangan pada masa lalu dan mungkin hingga saat ini. Objek peninggalan yang berkaitan dengan kedatangan bangsa china antara lain Klenteng tua Budhisatva Karaniya Metta dan Pelabuhan Sanghie. Klenteng tua Budhisatva Karaniya Metta diperkitakan berdiri pada abad ke-!7. Pada masa itu banyak sekali bangsa china yang datang ke Kalimantan Barat sehingga etnis china yang ada di Kalimantan Barat bertambah banyak. Dibangunnya Klenteng ini adalah untuk memfasilitasi etnis china untuk beribadah. Selain Klenteng tua, objek peninggalan lain yang berkaitan dengan adanya etnis china adalah pelabuhan Sheng Hie yang di perkirakan berdiri pada abad ke-18 dan merupakan pelabuhan peniagaan pertama di Pontianak. Pelabuhan Sheng Hie dipergunakan untuk kegiatan perdagangan pada masa itu bahkan hingga saat ini. Nama pelabuhan Sheng Hie sendiri diambil dari nama seorang pengusaha besar hasil bumi dari negeri China. Pelabuhan ini memiliki letak yang strategis karena terletak di tepi Sungai Kapuas.
Para peserta Arung Sejarah Bahari tidak hanya mengunjungi objek-objek yang berkaitan dengan sejarah maritim tetapi juga mengunjungi objek lain yang memberikan wawasan tentang Kalimantan Barat. Objek yang dikunjungi yaitu Tugu Khatulistiwa dan Museum Daerah Kalimantan Barat. Kota Pontianak merupakan kota yang dilalui oleh garis khatulistiwa sehingga berpengaruh pada suhu udara rata-rata harian yang cukup panas. Tugu Kahtulistiwa dibangun pada masa penjajahan Belanda. Tugu ini memiliki Keistimewaan yakni setiap tanggal 21-23 maret dan 21-23 september pada pukul 12.00 terjadi kulminasi, dimana benda-benda yang ada di sekitar tugu tidak memiliki bayangan, karena pada tanggal tersebut posisis matahari tepat berada pada garis khatulistiwa.
Selain Tugu Khatulistiwa objek lain yang dikunjungi ialah Museum Daerah Kalimantan Barat. Di museum ini kita dapat menemukan hasil peninggalan sejarah khusus etnis yang ada di Kalimantan Barat yaitu etnis melayu, etnis dayak dan etnis china.
Kota Pontianak merupakan salah satu kota atau wilayah yang di jelajahi pada kegiatan Arung Sejarah Bahari, kota atau wilayah lain yang di jelajahi ialah Kabupaten Ketapang dan Sukadana yang terletak di sebelah selatan Kalimantan Barat. Kabupaten Ketapang dan Sukadana memiliki berbagai peninggalan terkait kehidupan sejarah kerajaan maritim karena di wilayah ini terdapat peninggalan kerajaan Sukadana dan Ketapang Perjalanan Pontianak menuju Ketapang ditempuh dengan waktu kurang lebih 7 jam dengan menggunakan kapal laut ekspres.
Objek-objek kunjungan yang ada di Ketapang yaitu Keraton Muliakarta, Kompleks Makam Raja-Raja Matan, Makam Keramat Tujuh dan Keramat Sembilan. Keraton Muliakarta diperkirakan dibangun pada Abad ke-17 dan merupakan Istana Raja-raja Matan (Keturunan Raja-raja Tanjungpura). Keraton ini menghadap sungai Pawan sebagai jalur transportasi utama untuk perniagaan. Kerajaan Tanjungpura atau Matan memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Sukadana karena Sejarah berdirinya Kerajaan Matan tidak terlepas dari Kerajaan Sukadana yang pada masa lalu pendiri Kerajaan Matan berasal dari Kerajaan Sukadana yang berhasil melarikan diri akibat kekalahan yang dialami Kerajaan Sukadana dari Kerajaan Pontianak.
Komplek Makam Raja-raja Matan terletak sekitar 4 km dari Keraton Muliakarta. Disini dimakamkan Raja-raja Kerajaan Matan. Selain Kompleks Makam Raja0raja Matan terdapat pula Makam Keramat Tujuh dan Keramat Sembilanm, makam ini diperkirakan telah berumur sekitar 650 tahun yang dibuktikan dengan tulisan pada batu nisan yang tertulis 1363 saka atau 1441 masehi. Batu nisan di makam ini terbuat dari batu andesit dan bertuliskan huruf arab. Menurut ahli arkeologi untuk pertama kali batu andesit ditemukan di Pulau Kalimantan adalah di Ketapang. Diperkirakan bentuk batu nisan berasal dari abad terakhir Kerajaan Majapahit. Batuan andesit yang ada di Ketapang berasal dari pulau jawa dan diperkirakan pada masa lalu telah terjadi hubungan antara majapahit dan Kalimantan.
Akhir perjalanan arung sejarah bahari ialah di Sukadana di daerah ini pada masa lalu berdiri sebuah kerajaan yang terletak di pantai barat Kalimantan dan sempat merasakan masa-masa kejayaan karena memiliki letak strategis yang merupakan jalur perdagangan antara jawa, sumatera dan semenanjung malaka. Bahkan, dikemudian pedagang-pedagang cina juga melalui jalur perdagangan ini.
Perjalanan ke Sukadana ditempuh dengan waktu kurang lebih 3 jam dengan menggunakan bis dari Ketapang. Objek-objek yang dikunjungi di daerah Sukadana ialah Bekas Pelabuhan Sukadana, Makam Raja-raja Sukadana, Benteng Belanda dan Bekas Kantor Belanda (Tangsi). Bekas Pelabuhan Sukadana terletak di Teluk Sukadana yang merupakan pula Selat Karimata. Pelabuhan ini pada masa lalu dipergunakan sebagai pelabuhan perdagangan jalur sutera sekaligus merupakan pertemuan jalur perdagangan dari barat, timur dan utara. Digunakan juga perdagangan dari luar nusantara seperti Eropa, Cina, Johor dan Brunei dan juga dari nusantara seperti Bugis, Melayu, Jawa, Banjarmasin, Riau dan Palembang. Hasil yang dijual pada masa itu adalah rempah-rempah, intan, kayu gaharu dan kerajinan berbagai bangsa, guci-guci dari cina dan sebagainya. Sekarang ini peninggalannya berupa puing-puing bangunan pelabuhan yang sudah tidak utuh lagi.
Makam Raja-raja Sukadana terdapat dikampung dalam sekitar 3 km dari bekas pelabuhan Sukadana. Disinilah terdapat makam raja Kerajaan Sukadana yaitu Tengku Akil yang wafat pada tahun 1845. Hingga kini keturunan dari Tengku Akil masih tinggal tidak jauh dari makam, peninggalannya berupa genta dan pedang pun masih terawat dengan baik. Selain makam dan pelabuhan objek lain yang dikunjungi ialah Benteng dan Tangsi militer Belanda yang berjarak sekitar 2 km dari makam. Pada masa lalu benteng digunakan sebagai pusat pemerintahan distrik sukadana. Selain itu di daerah sekitar benteng dan tangsi militer tedapat pemukiman khusus orang Belanda. Saat ini kondisi bangunan tidak terawat lagi terlihat kotor dan ditumbuhi oleh semak.
Perjalanan pun berakhir di Sukadana, saatnya kembali ke Ketapang lalu ke Pontianak. Kegiatan arung sejarah bahari tidak hanya mengunjungi objek-objek yang memiliki nilai kebaharian namun juga diadakan kegiatan diskusi dan seminar. Diskusi dan seminar diadakan untuk memperluas wawasan mengenai dunia Kalimantan Barat dan juga dunia kebaharian. Diskusi yang diadakan antara lain mengenai diskusi sejarah maritim.
Semoga dengan adanya kegiatan ini bertambah pula wawasan kebaharian dari para pesertanya, serta dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat didaerah masing-masing.
Diharapkan kegiatan ini bukan hanya sekedar perjalanan biasa yang tidak memiliki arti apapun namun diharapkan perjalanan ini membawa pesan tersendiri yang tersimpan di benak para peserta yang selanjutnya mereka dapat mengaktualisasikan dirinya terkait dunia kebaharian. Semoga…

Minggu, 21 Maret 2010

from someone

banyak . .
banyak alasan dan larangan untuk meninggalkan dan berpaling dari mu . .
terkadang tak sanggup untuk mempertahankan kisah yang semakin hari semakin semu . .
terlalu kecil kemungkinan antara bertahan dan berpaling atas cerita ini . .
sebenarnya aku selalu berharap waktu waktu ku tak terlewat sia sia begini
namun ada satu alasan kuat yang membuat roh ku bertahan dalam puluhan hambatan . .
beginilah adanya milyaran atom dan sel sel tubuhku bersenandung menterjemahkan satu harapan . .
cinta itu masih terlalu hebatkuat dan terikat untuk bersaksi , aku begitu mencintai diriMU dengan segala lebih dan kurangMU . .